Make your own free website on Tripod.com

 

Profil

Detasemen Khusus 88 Anti-Teror adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota merupakan anggota tim Gegana. Unit ini juga sering disebut dengan Delta 88.

Pembentukan pasukan khusus ini mulai dirintis sejak ATAP (Anti-Terror Assistance Programme), dan makin diperhatikan sejak mulainya kampanye perang Amerika Serikat melawan teror. Pendanaannya dibantu oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Negara AS dan pelatihan diberikan langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan kota Jakarta. Biaya pembentukan Detasemen 88 yang mencapai Rp 150 milyar digunakan untuk membeli peralatan komunikasi antiradar, kamera infra merah dan senjata dari berbagai model. Unit ini juga dilengkapi sebuah pesawat angkut khusus jenis C-130. Semua bantuan ini diberikan oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai penghargaan atas kerja keras dan kesuksesan Mabes Polri dalam menggulung pelaku bom Bali dan bom Marriott.

Angka 88 pada nama Detasemen Khusus ini merupakan representasi dari korban peristiwa bom Bali pada tahun 2002 dari warga asing yang mengalami korban terbanyak yaitu Australia. Makna "88" berikutnya adalah, angka "88" tidak terputus dan terus menyambung. Ini artinya bahwa pekerjaan Detasemen 88 Anti-teror ini terus berlangsung dan tidak kenal berhenti. Angka "88" juga menyerupai borgol yang maknanya polisi serius menangani kasus ini. Namun sumber lain menyebutkan, bahwa nama sebenarnya dari Detasemen 88 adalah ATA (Anti-Terrorist Assault) Detachment, namun karena terdapat kemiripan ejaan dengan angka 88 (eighty-eight), dan sebelumnya telah ada pasukan khusus lain dengan nama Detasemen 81, maka nama Detasemen 88 yang dipilih. Selain itu juga beredar rumor bahwa angka 88 dipilih karena mayoritas pendirinya adalah lulusan AKPOL angkatan 88, sebagaimana Detasemen 81 didirikan oleh lulusan AKMIL angkatan 81.

Dari sisi kemampuan, pasukan elit anti-teror ini disetarakan dengan Pasukan Khas Angkatan Udara, Koppasus dan Marinir. Mereka dirancang untuk mampu mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Pasukan khusus berkekuatan 400 personel ini dibagi menjadi 3 sub-detasemen yaitu Sub-den Tindak, Sub-den Investigasi, dan Sub-den Intelijen. Sub-den Tindak dibagi lagi menjadi Unit Negosiasi, Unit Pendahulu, Unit Penetrasi serta Unit Jihandak (penjinak bahan peledak), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Anggota Polri yang akan menjadi anggota Detasemen 88 harus melalui seleksi ketat. Selain punya kemampuan fisik dan intelejensi di atas rata-rata, calon juga harus bebas dari kasus pelanggaran HAM. Karena itu, anggota Polri yang pernah bertugas di Timor Timur tidak bisa jadi anggota pasukan elit ini.

 

Home | FAQs | Referensi | Site Map | Links | Copyright © 2006 Andrew Rainfeed